Thursday, July 27, 2017

ALASAN MENGAPA SAYA SUKA MEMBACA KOMIK DETECTIVE CONAN KARYA AOYAMA GOSHO

Gw hobi baca komik, beli, dan koleksi. Ga banyak judul sih yang gw punya, tapi lumayan lah koleksi gw hampir menuhin 2 lemari ukuran besar :D. Salah satu manga atau komik yang gw suka dari dulu hingga sekarang, ga bosen2, dan ga tamat2 juga, itu Detective Conan (DC) atau versi Inggrisnya Case Closed karya Aoyama Gosho. Gw pertama baca DC itu dari volume 7, yang cerita utamanya tentang Kutukan Piano di Pulau Tsukikage. Waktu itu gw kelas 4 atau 5 SD gitu. Dan yang beliin komik itu bokap. Ga tahu bokap gw kesambet apa beliin gw DC, dikira komik anak2 kali yah, hahaha. Pas gw baca isinya pembunuhan lah, orang ditusuk, dibakar, digantung, dan sebagainya. Ada 1 part di volume 7 yang masih gw inget hingga sekarang, part itulah yang buat gw mulai suka, ngefans, dan bahkan mengikuti jejak si tokoh utama, Conan Edogawa. Ini dia:


Walaupun ini cerita fiksi, tetep aja gw kagum sama sosok detektif ini... kok bisa tahu yah rasa narkotik ^^ Mang narkotik punya rasa, atau emang ada rasa narkotik, hehehe.

Alhasil hingga sekarang gw udah koleksi DC dari vol 1 (1997), sampe vol 91 (2017). Dan sepertinya belum ada tanda2 tamat. Masih banyak misteri yang belum terungkap, plus musuh besar Conan, Organisasi Hitam baru muncul wakil ketua-nya, si Rum. Ga tahu deh di vol berapa Big Bos nya bakal muncul. Yang meranik dari DC adalah, untuk kasus intinya ga pernah bisa ditebak2, siapa kawan siapa lawan. Gw meleset terus. Seperti waktu pembaca harus menebak siapa sosok Vermouth ataupun Bourbon, yang mana sang penulis selalu menghadirkan 2-3 sosok untuk mengecoh pembaca. Kelemahan DC itu salah satunya sudah terlanjur dicetak seperti buku di Indo pada umumnya, dibacanya dari kiri ke kanan. Akhirnya, banyak clue2 yang miss, seperti tangan atau sudut gambar kiri atau kanan. Dan terlalu panjangnya cerita DC yang membuat banyak pembaca yang bosen akhirnya berhenti di tengah jalan. Karena cerita intinya jarang sekali diangkat. Sekalinya diangkat, selalu berakhir dengan misteri lagi --__--.

Yah doa gw sama Tuhan cuman 2 sih untuk DC... pertama kasih gw umur yang panjang biar bisa tahu tamatnya nih komik! Penasaran banget, sampe ke ubun2, hahaha. Kedua, tolong kasih umur yang panjang juga ke sang komikus, Aoyama Gosho, biar bisa nyelesein tuh komik tepat waktunya : )


==END==
»»  Selengkapnya...

Sunday, June 11, 2017

JOB DESC ATAU TUGAS EDITOR DI PENERBIT BUKU

Dari 26 mahasiswa yang “kecebur” di program studi Penerbitan di jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta, Kampus UI Depok tahun 2007, gw menjadi satu-satunya di kelas itu yang tenggelam dalam dunia penerbitan buku. Karier gw dimulai saat gw diterima magang atau job training di PT Ufuk Publishing House (Lini penerbitan brand Ufuk Press, Rahat, dan Ramala Books). Inilah pengalaman gw tentang job desc dan jenjang karier editor di industri media cetak atau penerbitan buku:

* Staf Redaksi (MG) dari 25 Februari – 29 April 2010
Tugas dan tanggung jawab:
  • Mengikuti rapat redaksi setiap hari Kamis
  • Menerima dan mereview/seleksi naskah yang masuk, via email atau pos. Sehari bisa + 10 naskah yang masuk. Lalu membuat laporan mana yang layak terbit dan tidak, serta alasannya.
  • Mengirimkan surat ke penulis yang naskahnya diterima dan ditolak.
  • Menjadi first reader untuk naskah yang siap cetak dan terbit.
  • Menjadi proofreader atau korektor teks. Tugasnya, saat sebuah buku siap cetak, kita print dulu di kertas A4, lalu dibaca serta dicek terhadap kesalahan2 yang ada, seperti salah ejaan, teks, kalimat, paragraph, tanda baca, tata letak gambar, layout, dan kelengkapan sesuai daftar isi. Harus teliti!
  • Mengecek kalimat2 yang ada di materi iklan.
  • Nge-blog (nah gw belajar ngeblog dari kantor gw yang ini). Gw dikasih akses untuk meng-upload materi yang akan didiskusikan di blog internal perusahaan. Zaman itu diskusi masih menggunakan platform Blogger.com.
  • Bertanggung jawab kepada Editor sebagai atasan.
Waktu itu tahun 2010, gaji gw masih Rp 15.000 sehari. Yah maklum lah, namanya juga anak mangang : )

Selesai magang, gw langsung diminta untuk bergabung oleh Direktur Penerbit, dengan syarat menyelesaikan kuliah dulu. Puji Tuhan, gw pun langsung kerja sambil menyusun Tugas Akhir. Karena belum karyawan, gw dibayar dengan sistem harian, naik jadi Rp 40.000 sehari (Mei – Agustus 2010). Dengan sistem perusahaan yang fleksibel, gw bisa izin ga masuk untuk urusan kampus. Dan selesai jam kantor gw juga boleh menggunakan fasilitas kantor untuk menyusun Laporan Praktik Industri dan Tugas Akhir. Rezeki banget dari Tuhan, lumayan bisa hemat biaya rental, warnet, ama nge-print :p
25 Juli 2010 gw sidang, puji Tuhan gw lulus. Besoknya langsung aktif lagi ngantor. Banyak plus-nya bila kita bisa langsung kerja sehabis kuliah. Minusnya paling jadi ga bisa liburan bareng temen2, hehehe, dan merasakan euphoria kelulusan seorang mahasiswa :) Setelah semua urusan kuliah selesai, akhirnya gw menjadi karyawan Penerbit Buku PT. Ufuk Publishing House, masa percobaan dimulai pada 1 September – 30 November 2010. Desember 2010 gw resmi menjadi Tetap Karyawan.

* Admin/Sekretaris Redaksi dari Desember 2010 – Maret 2013
Tugas dan tanggung jawab:
  • Mengurus administrasi penerbitan, seperti surat-menyurat serta Perjanjian Penerbitan, tagihan (invoice), dan penghubung antar divisi.
  • Mengecek kelengkapan naskah yang akan diproses.
  • Meng-update bank naskah penerbit.
  • Meng-update alur proses penerbitan.
  • Admin blog internal perusahaan (gw pegang 4 blog, hahaha)

* Right Editor
Tugas dan tanggung jawab:
Singkatnya, tugas Right Editor adalah mencari hak cipta sebuah judul buku. Misalnya, Penerbit Ufuk ingin menerbitkan buku City of Bones karya Casandra Clare yang diterbitkan oleh Penerbit Simon & Schuster, Amerika, ke dalam versi bahasa Indonesia dan dijual di Indonesia. Tugasnya, pertama mencari kontak siapa pemegang hak cipta atau lisensinya, bisa melalui penulis, penerbit, ataupun agen naskah. Dalam dunia internet saat ini, pencarian contact person lebih mudah menggunakan Google. Setelah mengetahui kontaknya, langkah kedua kita menghubungi pemegang hak cipta via email. Korespondesinya tentunya menggunakan bahasa Inggris. Bila belum ada pemegang hak cipta untuk negara Indonesia, langkah ketiga kita memberikan proposal dan negosiasi agar mendapat hak ciptanya. Bila pihak sananya setuju, artinya negosiasi DEAL dan kita, penerbit Indonesia berhak menerjemahkan, mencetak, dan menjualnya di Indonesia. Tentunya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku sesuai Surat Perjanjian Penerbitan (agreement) antar kedua pihak. Langkah keempat, sebagai Right Editor kita tetap berkomunikasi dengan pemegang hak cipta untuk memberikan informasi tentang proses penerbitannya. Serta menginformasikan pembayaran down payment atau tanda jadi, dan memberikan laporan royalti. Terkahir, bila buku sudah cetak, kita kirimkan beberapa buku versi terjemahannya ke penerbit asal. Catatan, ini hanya untuk 1 judul buku saja. Sementara posisi gw cuman 1 orang saja, dan melayani request dari 4 Editor. Kebayangkan sibuknya seperti apa :D. Untuk urusan tertentu, Right Editor harus siap bertemu tatap muka dengan perwakilan penerbit dari luar negeri yang mau bekerja sama. Ataupun siap berbicara via telepon atau Skype. Jadi harus baik penguasaan bahasa Inggrisnya. Karena bekerja sebagai Right Editor juga keahlian bahasa Inggris gw meningkat, learning by doing.

* Social Media
Tahun 2010 perusahaan gw belum memiliki media sosial untuk branding. Waktu itu perusahaan hanya menggunakan blog dan milis. Gw menjadi salah satu orang yang menginisiasi perusahaan agar mulai aktif menggunakan media sosial, Facebook dan Twitter. Direktur pun setuju, dan perusahaan gw baru mulai bermain media sosial di tahun 2011.

Bertanggung jawab kepada Editor dan Direktur sebagai atasan.
Gaji pertama gw itu Rp 1.100.000 akhir 2010. Setelah mengalami beberapa kali kenaikan, gaji terakhir gw sebagai Admin atau Sekretaris Redaksi dan Right Editor di Penerbit Buku adalah Rp 3.000.000, tahun 2013. Dengan gaji segitu gw memberanikan diri untuk melanjutkan kuliah di Program Kelas Karyawan Universitas Mercu Buana. Kerja sambil kuliah ^^.

* Senior Editor dari Mei 2013 – Januari 2017
Gw pindah ke penerbit buku PT Zaytuna Ufuk Abadi. Direkturnya saat itu mempercayai gw untuk mengembangkan lini atau imprint baru penerbit dari 0. Jabatan gw di Perjanjian Kerja adalah Pemimpin Redaksi atau Editor in Chief. Tapi karena bagi gw itu adalah "keberatan jabatan", jadi gw lebih suka disebut dengan posisi Editor. Nama lini penerbitan yang gw handle adalah Penerbit CHANGE. Secara singkat tugas atau job decs seorang Editor adalah a sampai z dalam proses penerbitan sebuah buku. Dari naskah ide, mentah, proses, hingga jadi dan cetak semua harus dikawal. Pas jadi pun tugas belum selesai sampai di situ. Seorang Editor juga harus memikirkan dan mengeksekusi promosi dan bagaimana cara meningkatkan penjualan buku tersebut, agar buku-buku yang sudah dicetak, tidak menumpuk di gudang. Waktu itu target gw adalah 3 buku terbit per bulan.
Tugas dan tanggung jawab:
  • Membuat konsep atau mencari ide untuk naskah yang akan diterbitkan (baik lokal ataupun terjemahan).
  • Menerima dan menseleksi naskah yang masuk ke penerbit.
  • Membuat ide untuk konsep desain cover dan tata letak (layout) setiap buku. Serta ide promosi dan iklan, lalu mengimplementasikannya, koordinasi dengan tim terkait.
  • Admin media sosial.
  • Admin website.
  • Koordinasi dengan tim freelance, seperti penulis, penerjemah, penyunting, dan korektor teks. Serta memeriksa hasil kerja mereka.
  • Menjalin hubungan baik dengan penulis dan freelancer.
  • Memeriksa hasil dummy—cetak coba dari percetakan.
  • Riset pasar pembaca dan laporan penjualan.
  • Memonitoring competitor.
  • R&D untuk lini yang kita tangani.
  • Bekerja sama dengan semua bagian, marketing, admin, gudang, dan direksi.
  • Mengambil tindakan untuk menjual buku-buku yang tidak laku dan menumpuk di gudang.
  • Bertanggung jawab kepada Direktur sebagai atasan.

Gw resign per Januari 2017. Salah satu alasan gw resign, gw tulis di blog ini juga. Banyak banget ilmu yang gw dapet selama hampir 7 tahun di dunia penerbitan. Antara lain, ilmu bisnis, cetak-mencetak, kreativitas, penerbitan media, hingga relasi dan link dengan media, rekan bisnis, penulis, pemerintahan, swasta, serta profesioanal. Dan gw sangat-sangat bersyukur akan hal itu.


END
»»  Selengkapnya...

Sunday, May 7, 2017

PERBANDINGAN JASA PENGIRIMAN: JNE, TIKI, WAHANA, POS INDONESIA

Hampir 1 tahun gw berbisnis online, gw pun mempelajari perbedaan tarif ongkos kirim dan pelayanannya terhadap barang kirimkan kita. Gw akan membandingkan 4 jasa pelayanan yang sering di-request customer di Lapak gw: Pos Indonesia, JNE, TIKI, dan Wahana.

HARGA  / TARIF - REGULER SHIPPING
Untuk tarif yang paling murah, saat ini masih dipegang oleh Wahana. Untuk Jabodetabek tarifnya hanya Rp 5.000, dan gw pernah ngirim ke Medan hanya Rp 10.000 per kilogram. Walaupun waktu pengirimannya lebih lama dari jasa pengiriman lainnya, tapi selama ini gw belum pernah sih punya masalah pengiriman dengan Wahana. Dan sering dipilih oleh customer gw untuk yang tidak buru-buru ataupun yang beli banyak (berat). Sementara Pos Indonesia, TIKI, JNE ongkirnya sama Rp 9.000 untuk Jabodetabek.
Untuk pengiriman ke daerah yang kecamatannya jauh dari pusat kota, sebaiknya gunakan JNE atau Pos Indonesia. Jangan pake TIKI. Karena gw pernah ngirim ke daerah Bawang, Banjarnegara, ongkirnya ga beda jauh sih. Tapi via TIKI ada biaya tambahan yang disebut Surcharge yang lumayan mahal. Kata petugas TIKI-nya sih itu biaya kurir yang mengantarnya ke daerah yang jauh dari pusat kota (pake motor).


HARGA  / TARIF - EXPRESS SHIPPING
Pengiriman cepat atau besok sampai, saat ini gw masih percaya menggunakan TIKI. Untuk tarifnya TIKI lebih murah daripada JNE. Perhitungan tarif cepat JNE biasanya dikali 2 dari tarif regulernya.

STATUS PENGIRIMAN
Untuk status pengiriman yang jelas dan detail, yang membuat customer tenang, gw memilih Pos Indonesia. Pos Indonesia saat ini, menurut gw, adalah jasa pengiriman yang status barangnya selalu diupdate, rinci dan jelas. Seperti keterangan saat barang diambil kurir, barang dikirim ke cabang tujuan, hingga saat barang dikirim lagi ke alamat tujuan dan menginfokan nama penerima. Kalo JNE hanya memberikan 2 keterangan saja, Manifested dan Delivered.

SERVICE
Bila menggunakan JNE atau TIKI, barang kiriman kita akan dimasukan plastic, jadi dapat terhindar dari kotoran ataupun air. Kalo di Pos Indonesia ga bakal diplastikin, resi juga ditempel di barang kita.

KELUHAN
Gw ga pernah punya masalah pengiriman dengan TIKI, Pos Indonesia, atau Wahana. Tapi kalo dengan JNE, sering :d Dari status pengiriman yang ga terupadate, telat berhari-hari, hingga petugas dan kurir JNE yang selalu beralasan. Gw pun sering menghubungi CS JNE baik via email ataupun Twitter mereka. Seperti masalah gw dengan JNE berikut ini.

BRAND
Hingga hari ini customer gw paling banyak merequest untuk jasa pengiriman JNE. Ga bisa dipungkiri, walaupun JNE banyak bermasalah dengan pelanggannya, tapi jasa ini tetap dipilih dan dipercaya. Berdasarkan pengalaman gw, kalo barang telat, pasti customer yang dituduh dan dipersalahkan. Bukan jasa pengirimannya, hehehe.

Dengan pesatnya perkembangan dunia bisnis online, mulai banyak bermunculan jasa-jasa pengiriman baru. Sebaiknya jasa pengiriman besar yang sudah lama harus mulai memperbaiki layanan mereka bila ingin bersaing dengan jasa pengiriman baru, yang hadir dengan inovasi berbeda.
»»  Selengkapnya...

Friday, April 21, 2017

PENGALAMAN PSIKOTEST DI PT WAHANA MAKMUR SEJATI (WAHANAARTHA GROUP)

Gw apply di PT Wahana Makmur Sejati (Wahanaartha Group) untuk posisi Marketing Communication Officer melalui Jobstreet.com, tanggal 6 April 2017. Rabu, 12 April 2017 gw dapat pesan WhatsApp dari nomor 08889114890, nomornya HRD Wahana Artha, yang mengundang gw untuk ikut psikotest hari Kamis, 13 April 2017 jam 8 pagi. Anehnya, undangan tersebut untuk posisi PR, padahal gw apply nya untuk Marcom. Gw ga mau menyiayiakan kesempatan ini. Jadinya, gw OKE-in untuk hadir tes besok.

Gedung Wahana Artha beralamat di Jl. Gunung Sahari Raya No. 32 Jakarta Pusat. Untuk menuju ke Gedung Wahana Artha, gw dari Depok naik kereta di Stasiun Pondok Cina. Gw naik kereta balik dari Depok yang jam 6.03, lumayan keretanya ga terlalu padat. Turun di Stasiun Sawah Besar gw naik Go-Jek, sekitar 3 kilometer, turun langsung di depan gedungnya. Karena gw kepagian, jadinyan gw nongkrong dulu di Indomart sebelah Gedung Wahana Artha.

Jam 7.40 gw masuk ke Gedung Wahana Artha. Gedungnya 8 lantai plus basement untuk parkiran. Lantai 1 untuk showroom motor Honda dan bengkel. Ada liftnya juga. Tapi untuk ke lantai 2, pengunjung wajib naik tangga darurat. Lantai 2 itu tempat pengambilan berkas-berkas. Para pelamar nunggu di situ. Baru 3 orang termasuk gw. Tepat jam 8, kami disuruh naik ke lantai 3, pake tangga darurat lagi. Dan masuk ke ruangan tempat psikotest. Gedung Wahana Artha cukup bagus, bersih, rapi, dan lengkap. Ada ruangan menyusui, ruangan rapat kecil dan besar, mushola, serta tempat makan. Sambil menunggu pelamar yang lain, pelamar mengisi biodata 4 lembar kertas folio full. Dan saat mengisi kami diputarkan tayangan company profil Wahana Artha Grup. Daftar pelamar sekitar 18 orang untuk hari itu. Gw cukup bangga, karena dari keterangan di Jobstreet, pelamarnya mencapai 700 orang. Dan gw berhasil lolos tahap screening mereka.

Bisa dibilang, ini psikotest terlama gw setelah psikotestmasuk KPK. Gw mulai jam 8, keluar setengah 1 siang! Tesnya banyak, dan lumayan bikin capek plus pegel tangan, hehehe. Ini tahapan psikotest di Wahana Artha:
- Isi form biodata 4 lembar kertas folio full (beberapa pelamar ada yang sudah isi via soft file-nya).
- Nonton company profile
- 10 soal esai, seperti “Kenapa janji harus ditepati?”, “Bila di bioskop ada kebarakan?”, “Bila tersesat di hutan?”.
- Edwars Personal Preference Schedule, yang 225 soal jawabannya “a” atau “b”, (ini tes yang paling males, bikin capek, waktunya lama, dan soal plus jawaban muter2 di situ aja ^^).
- Intelligence Struktur Test Amthauer (jenis tes dan soalnya banyak. Untuk lebih lanjut bisa cek di https://karinaza.wordpress.com/2015/06/19/tes-intelegensi-ist-2/)
- Wartegg Test
- Gambar Orang dan Pohon
- Kreplin

Selesai. Pelamar pun dipersilakan pulang. Kira-kira ada 10 orang yang ikut tes saat itu, banyak yang telat juga, hahaha. Response untuk hasil tes kami cukup lama, 2 minggu. Singkat aja, Wahana Artha adalah perusahaan dealer resmi sepeda motor Honda khusus untuk daerah Jakarta dan Tangerang. Dengan berkembangnya bisnis Wahana Artha, mereka menyediakan layanan penjualan kredit melalui anak perusahaan WOM Finance. Serta pelayanan purna jual. Tahun ini Wahana Artha mulai mengembangkan bisnis baru, seperti hotel, restoran, dan juga CSR. Ga heran, perusahaan sebesar ini pasti masuknya susah yah :D


=END=
»»  Selengkapnya...