Thursday, March 10, 2016

Akame ga Kill! (Review)

Ini salah satu anime yang baru gw kelar nontonnya. Agak telat sih, soalnya anime ini udah booming di tahun 2014-2015. Dah gw belum bisa move on hingga hari ini :D

Awalnya gw tahu anime ini dari YouTube dengan judul "Top 5 Best Anime Duels to the Death (2010-2014)" yang diupload Best Anime Tops Of All Time. Dan anime "Akame ga Kill!" masuk peringkat ke-4. Langsung aja gw menuju website langganan gw untuk nonton anime... ternyata anime tersebut ada dan sudah tamat. Hanya 24 episode. Seri berikutnya adalah masa lalu tokoh utamanya, Akame yang berjudul "Akame ga Kill! Zero".

Cerita dimulai dari seorang bocah desa bernama Tatsumi, pergi ke pusat kota untuk menjadi prajurit kerajaan demi mendapatkan uang, guna membiayai desanya yang mengalami kemiskinan. Setelah ditipu lalu ditolong oleh keluarga kaya, malamnya dia bertemu Night Raid, kelompok pembunuh bayaran yang bekerja untuk tentara revolusi. Mereka membunuh keluarga tersebut dan Tatsumi dibiarkan hidup karena dia bukan target. Tatsumi pun tahu kenyataan, bahwa 2 sahabat perjalanannya disiksa dan dibunuh oleh keluarga tersebut. Dan kenyataan bahwa ibukota tidak seindah bayangannya, raja yang dikedalikan oleh menterinya, membuat pemerintahannya korup, serta banyak orang menderita kemiskinan. Akhirnya Tatsumi bergabung dengan Night Raid.

Perjalanan Night Raid untuk melakukan revolusi tidaklah mudah, karena Kerajaan juga menyiapkan kelompok terkuat mereka yang dinamakan The Jaegers. Pertempuran Night Raid dan The Jaegers pun terjadi. Pertarungan demi pertarungan dan saling bunuh selalu berlangsung di setiap episodenya... penonton tidak akan tahu tokoh mana yang akan mati dari kedua pihak, ini salah satu poin yang menarik menurut gw!



Review
Sebanyak anime yang udah gw selesaikan, "Akame ga Kill!" salah satu yang paling BAGUS menurut gw. Dari segi cerita, visual efek (kolaborasi dengan Square Enix), pertarungan yang banyak, soundtrack, dan penokohan. Penokohan yang gw masuk di sini adalah setiap tokoh dari pihak Night Raid dan The Jaegers diceritakan masa lalunya dan memiliki alasan kenapa mereka membunuh. Yang bikin gw terharu adalah mayoritas anggota The Jaegers adalah orang baik dan punya alasan untuk membela kebenaran :(

Menurut gw anime ini untuk 17+ yah, karena banyak "bacok", "penggal", dan darah di mana-mana. Ga cuman tentang bunuh-bunuhan, anime ini juga menghadirkan persahabatan dan percintaan yang unik ^^ Penulis memilih alur cerita yang berbeda dari manga/anime kebanyakan, yang biasanya jagoan pembela kebenaran melawan kejahatan, tapi anime ini berbeda. Anime-nya juga sedih banget dan memiliki ending yang hebat.

Kurangnya adalah, walaupun judulnya Akame, tapi tokoh yang sangat diekspose adalah Tatsumi. Banyak yang bertanya2, sebenernya judulnya Akame atau Tatsumi yah??? Juga, sangat disayangkan manga-nya belum terbit di Indonesia. Yang gw baca di-online, jalan ceritanya sedikit berbeda dari anime-nya. Dan gw juga ga sabar untuk lihat "Akame ga Kill! Zero". Penasaran, masa lalu Akame yang awalnya adalah Pasukan Khusus Kerajaan, kenapa malah membelot ke Night Raid! Wah, pokoknya seru deh.



Kalo ada yang punya review lain atau usulan anime yang seru kaya "Akame ga Kill!" bolehlah tinggalin jejak di kolom komentar :)

Terima kasih.
»»  Selengkapnya...

Monday, January 18, 2016

SUSAHNYA MENCARI LAYOUTER

Dear Blog... ini postingan pertama gw di 2016. Udah lama banget ga nulis di mari. Buat pengunjung blog ini, selamat membaca :)

Ceritanya begini... gw kerja di sebuah perusahaan penerbit buku di Jakarta. Di situ gw sebagai Editor Buku (yang ngedit2 tulisan biar layak terbit). Nah, bulan lalu temen gw resign, dia sebagai layouter. Otomatis kita buka lowongan untuk mencari layouter pengganti. Hingga tulisan ini di-publish, kantor gw juga belum dapat layouter baru! Gile yah, ternyata di Jakarta ga cuman susah nyari kerja... nyari yang mau kerja juga susah loh :D

Lowongan sudah disebar via Facebook, Twitter, dan Kaskus. Persyaratannya juga ga susah-susah amat kog. Dari beberapa pelamar yang masuk, kami memilih 2 orang. Orang ke-1 kami berikan tes, tapi tidak dikerjakan. Orang ke-2 kami berikan tes, tapi minta nambah waktu seminggu lagi T_T. Memang saat ini kami selektif dengan fresh graduate, karena perusahaan untuk 2016 mempunyai target tinggi, sehingga kami ditugaskan pimpinan untuk "berlari cepat", jadinya ga sempet bila harus ngajari orang baru lagi ^^ *piss V.

Beberapa sudah dites, beberapa sudah dipanggil ke kantor. Tapi ga ada yang lolos loh. Dari tim penilai tes hanya memberi nilai 1 dan 2 dari 5 untuk para pelamar yang sudah dites. Alasannya, karena hasil tes layout mereka tidak ada yang menggunakan paragraph style. Tim penilai berpendapat bahwa, bila mereka tidak menggunakan paragraph style dalam melayout naskah buku yang memiliki banyak paragraf akan kesulitan sendiri dan makan waktu banyak bila dilakukan manual. Saat seseorang mempelajari InDesign, seharusnya hal pertama yang dipelajari adalah paragraph & character style. Banyak pelamar yang backgroundnya nonbuku, seperti majalah dan koran, yang memang tidak banyak bermain text, melainkan berfokus diinterior. Karena itu, hal sepele seperti paragraph style jadi terlewatkan oleh mereka.

Memang dari segi pengembangan karier dan kreativitas, menjadi layouter nonbuku lebih dinamis. Tapi kerja menjadi layouter di buku juga seru kok dan lebih santai, ga banyak deadline, hehehe. Buat temen-temen yang masih mencari kerja, ingat-ingat apa yang sudah kita pelajari selama ini dan jangan sampai hal kecil menjadi terlewatkan. Seperti paragraph style ini, sejago2-nya para layouter dengan pengalaman kerja yang banyak, akan gugur seleksi juga bila tidak memperhatikan hal-hal kecil yang cenderung sepele, dalam menyelesaikan tugas yang bahkan hal kecil tersebut menjadi poin penting dalam penilaian sebuah tes seleksi kerja. 


END

»»  Selengkapnya...

Thursday, August 20, 2015

JASA AUDIT MURAH

JASA AUDIT
1. AUDIT INTERNAL UNTUK PEMBUKUAN
2. AUDIT UNTUK PROSEDUR ADMINISTRASI

PENYUSUNAN DAN PEMBUATAN LAPORAN KEUANGAN
1. LAPORAN NERACA
2. LAPORAN RUGI LABA
3. LAPORAN ARUS KAS
DAN LAINNYA

PELAYANAN PAJAK
1. LAPORAN PAJAK BULANAN
2. LAPORAN PAJAK TAHUNAN
3. PERENCANAAN PAJAK
4. PENGISIAN SPT

Kontak:
Drs. Misbet Bukit
PIN BB: 51B3272D
Hp: 081281839120 (TLP/SMS/WA)
Email: misbitsa@gmail.com
Alamat: Pondok Mekarsari Permai, Jalan Apel Blok U-1, Cimanggis, Depok, Jawa Barat

Karier:
- Accounting Manager di PT Tranka Kabel Indonesia (1973-2000), Pensiun

 Portofolio:
- PT. TMK Jakarta (2009-2014)
- PT. AP Jakarta (2012)

»»  Selengkapnya...

Monday, May 11, 2015

MALAYSIA DAY-2

Setelah kemarin dari siang mpe malan gw kerja, ketemu beberapa rekan penerbit Malaysia di PWTC, untuk bisnis jual beli hak cipta penerbitan buku (dari bahasa Malaysia ke Bahasa Indonesia), hari ini kami akan jalan-jalan mengelilingi KL. Tapi, biar ga ribet, kita gunakan jasa tour guide yang disediakan dari hotel ini. Paketnya tujuannya bermacam2 loh, dengan durasi perjalanan dan harga yang varitif. Kita pilih paket yang 4 jam. Untuk harga, gw ga dapat infonya, tapi kata bos gw murah, 4 orang ga sampai Rp 1 juta. Kita dijemput di depan hotel, naik mobil Proton Exora. Di dalamnya juga udah ada 2 wisatawan dari Malang, Indonesia :). Malaysia terdiri dari 3 ras: Melayu, China, dan India. Dan ketiga ras ini sangant diakui dan dihargai (kaya tinggal dalam 3 dunia). Wilayah tempat makan, ada 3 jenis. Stasiun TV, ada 3 jenis juga. Dan 3 bahasa ini yang umum dipake dalam papan penunjuk. Tour guide-nya orang China. Sepanjang perjalanan, dia berbahasa Inggris yang fasih. Ini beberapa wilayah yang kami kunjungi:
- Istana Negara
- Bukit Cave
- Pabrik Timah
- Menara Kuala Lumpur
- Beryl’s Chocolate Kingdom
- Green Tea
- Lampu merah untuk foto di dekat Petronas Tower
- Masjid
- Lapangan Merdeka

Dan setelah pusing-pusing—jalan2, kami minta diturunkan di Bukit Bintang. Kami makan sore di Restoran Ikhwan (Makanan Islam-Muslim Food). Setelah jalan2 di sekitar tempat ini, sempet masuk juga ke pasarnya dan nyasar di Sungai Wang Plaza, kami pulang naik Teksi Bermeter—argo. Uniknya, tiap taxi di sini di kasih nama sopirnya di pintu mobil. Walaupun berargo, ujung2nya tetap aja tawar menawar. Kembali ke hotel, kami naik taxi dengan tarif RM 15. Money changer di sini tidak menerima rupiah ke ringgit.


Malamnya, setelah beristirahat, kami bergerak lagi. Menuju Petaling Street untuk beli oleh-oleh (buah tangan). Untuk memudahkan perjalanan, kami naik RapidKL—Commuter Line-nya Malaysia, bedanya rel mereka di atas. Untuk single trip, kita akan dilayani oleh mesin berbentuk box besar—mesin penjual minuman dengan layar sentuh. Caranya mudah, cukup sentuh stasiun tujuan kita, banyaknya tiket, dan nanti jumlahnya akan tercantum di layar. Uangnya dimasukan otomatis ke mesin, menerima uang lebar dan sen logam, nominalnya akan berkurang sesuai uang yang dimasukan. Selain mengeluarkan tiket yang berbentuk kepingan, mesin ini juga bisa mengeluarkan kembalian loh :D. Masuknya touch and go, sama seperti CL. Sampai di Toko Hiro Comic World Sdn. Bhd., Jalan Petaling, kami langsung beli oleh2. Gw juga kalap beli di sini: baju, tas, gantungan, pajangan, dompet, dan cokelat. Di sini harga kaos 3 = RM 20. Kami juga dapat gratis goody bag masing2 1 dari penjualnya ^^. Sepanjang jalan ini tersedia banyak chinese food. Parkir mobil outdoor-nya, per jam RM 5 loh. Kami hanya belanja di sini, karena buru-buru mengejar RKL terakhir, pukul 23:00. Hotel kami deket St. PWTC. Di deket hotel juga ada Restoran Hyderabad. Kami makan malam di situ, makan nasi biryani porsi besar (untuk 4 orang-ada daging ayam dan kambingnya = RM 49.90). Teh di Malaysia dikenal dengan: Teh O (untuk teh biasa), Teh Tarik (teh + susu), dan Lemon Tea. 
»»  Selengkapnya...

MALAYSIA DAY-1

Oke Bloggers… kali ini gw akan menceritakan perjalan kerja gw (sekalian jalan-jalan) ke Kuala Lumpur, Malaysia. Perjalanan dimulai lewat tol Lebak Bulus Jakarta – tol Kebon Jeruk – Bandara SOETA yang ditempuh hanya dalam waktu 30 menit! Tol Kebon Jeruk terbilang tol yang cukup baru. Karena itu, masih sepi dari kendaraan, dan jalannya pun masih mulus. Gw naik pesawat Lion Air JT-282 yang berangkat pukul 09:05 dari Terminal 2D. Ingat bro… untuk keberangkatan internasional, diharapkan datang 2 jam sebelum take off, karena 2 kali check in (tiket dan imigrasi). Pukul 7 gw udah sampe bandara. Tapi karena loket Lion cuma 1, jadi ngantri panjang dan cukup makan waktu. Sekedar info, dan gw yakin udah pada tahu :p kalo tiket tinggal print aja, atau foto di hp, dan tinggal sebutkan kode booking pas di loket. Sekarang juga udah ga bayar air tax di tempat. Loket imigrasi juga cuma 1 untuk ASEAN, jadi ngantri lagi. Oh iya, gw berangkat ber-4 orang (3 bos, 1 anak buah—gw :D). Karena bos ga mau repot pas nyampe, barang2 dibawa ke pesawat semua (maksimal 7 kg per orang). Sampai di pintu D, kita sarapan dulu, malan donat di Krispy Kreme Doughnuts. Masuk di Boarding Room, tas gw dibuka, dan beberapa barang gw dikeluarin dan dilarang untuk dibawa masuk ke pesawat. Gw baru tahu peraturan ini—DILARANG MEMBAWA CAIRAN DI ATAS 150 ML KE DALAM PESAWAT! T__T Walhasil, gw harus merelakan sabun mandi cair, shampo, dan minyak rambut gw yang masih banyak untuk mereka (ikhlaskan!). Peraturan inj berlaku untuk semua penerbangan. Kalo kalian di Boarding Room lihat orang2 yang lagi ngabisin air mineral mereka, itu akibat dari peraturan di atas. Gw dapat di bangku 2D, paling depan-ujung jalan. Lumayan bisa lihatin aktivitas 2 pramugari dan ruang pilot. Penerbangan hanya telat 10 menit akibat lalu lintas udara yang padat. Sampai di Kuala Lumpur International Airport 2 pukul 12:05 waktu Malaysia. Jadi, karena perbedaan waktunya hanya 1 jam, perjalanan dari Indonesia ke Malaysia yang sebenarnya ditempuh hanya dalam waktu 1 jam, terlihat seperti 2 jam perjalanan.

Touch down di KLIA 2 dengan selamat, saat sampai di terminal kedatangan, gw langsung teringat Bandara Kuala Namu Medan, Sumatera Utara. Mirip banget bro, dari tempat masuk pesawatnya, dalamnya, ampe jalan layangnya keluar bandara. Pasti Malaysia niru Medan, hehehe :D.
Ini sedikit kamus bahasa Malaysia yang bisa dipake di KLIA:
- Perlepasan Dalam Negeri (Domestic Departures)
- Perlepasan Antar Bangsa (International Departures)
- Kaunter (Counter-Check in/out)
(Catatan: saat gw nuker rupiah ke ringgit (beli), harganya Rp 3.650 = RM 1.
Keluar dari terminal, ada stand operator HP Malaysia yang mereknya HotLink. Mereka menawarkan nomor HP Malaysia paket turis: Internet unlimited 1 Minggu = RM 13 dan Internet unlimited plus pulsa untuk telepon dan sms 1 minggu = RM 33. Untuk kita orang modern yang ga bisa lepas dari online HP, paket ini sangat dibutuhkan. Operator yang dipilih adalah Maxis 3G. Mengingat mode roaming yang mahal untuk operator Indonesia. KLIA terdiri dari 4 lantai. Lantai 4 untuk bandara+tempat makan, lantai 3&2 isinya kaya mal, dan lantai 1 untuk parkir, mobil, dan kereta. Sampai di luar bandara, kita dijemput oleh klien kami dan ditraktir makan siang di Sri Bangi Horizon Garden Restaurant, Bandar Baru Bangi, Selangor (macam family restaurant gitu). Dan diantar sampai Hotel Wira di Jalan Tamboosamy Chow Kit, Kuala Lumpur. Sepanjang perjalan gw melewati jalan tolnya Malaysia, high way, smart tunnel, dan jalan besarnya (bisa dilalui motor juga). Kesimpulan gw terhadap jalan Malaysia adalah, orang2nya tertib, bersih, jalanan mulu, sepi kendaraan, dan ga macet :). Untuk ukuran hari Sabtu/Libur/atau Cuti dalam bahasa Malaysia.

Kenapa gw datang ke KL? Gw kerja di Penerbitan Buku, Namanya Penerbit CHANGE. Dan gw sebagai Chief Editornya. Ini event tahunan Malaysia, namanya Pesta Buku Antarbangsa Kuala Lumpur 2015 (KLiBF) yang diselenggarakan 24 April-3 Mei 2015. Bertempat di Pusat Dagang Dunia Putra (PWTC) Kuala Lumpur. Kalo di Indonesia ada 3 event besar perbukuan: Islamic Book Fair, Jakarta Book Fair, dan Indonesia Book Fair. Ketiganya diselenggarakan di Istora Senayan Jakarta. Kami memilih Wira Hotel karena jaraknya dekat dengan PWTC, cukup jalan kaki 10 menit. Masuk percuma (gratis) dari pukul 10 pagi hingga 7 malam (hari Isnin-Kamis), dan hingga 9 malam (hari Jumaat, Sabtu, Ahad, dan Cuti Umum). Pemerintahan Malaysia, khususnya Kementerian Pendidikan Malaysia, sangat mendukung industri buku mereka. Terbukti event ini sangat di dukung, dengan menyediakan bus gratis, bus antar-jemput pelajar, dan pemberian baucher (voucher) untuk para pelajar 1 orang 1 dengan nominal RM 25. Voucher ini bisa ditukarkan di stand2 penerbit yang menjual buku. Voucher itu kemudian ditukarkan di bank, untuk diuangkan oleh penerbit. Pemerintah juga membebaskan GST (Goods Service Tax—dalam bahasa Malaysia) atau pajak untuk industri buku. 

Ini tarif kamar Wira Hotel

Menurut gw, Wira Hotel merupakan tempat penginapan yang nyaman. Dapat makan pagi (breakfast), welcome drink di meja kamar, AC sentral—bisa diatur, ada TV, Kamar mandi shower dan ada air panasnya, sabun cair :’), ada handuk, lemari, hanger yang ga bisa dibawa pulang, sandal, tempat tidur empuk plus selimut tebel dan bantal. Namun, menurut pengamatan gw, untuk traveler yang ingin cari penginapan low fare di KL, coba datang ke Bukit Bintang. penginapan di sana rata2 RM 90++ per malamnya (fasilitasnya gw kurang tahu).
»»  Selengkapnya...

Tuesday, March 3, 2015

Kecewa dengan Pelayanan Call Center Indosat

Pada tanggal 28 Februari 2015, jam 6:55 saya telpon call center Indosat 100 untuk melaporkan masalah internet saya yang memotong pulsa reguler, padahal pulsa internet masih banyak dan terdaftar. Dan meminta pulsa di kembalikan sekitar Rp 2.000. Call center berjanji akan segera membuat laporan dan memberikannya pihak terkait. Akan dikonfirmasi 1 x 24 jam.

Pagi ini saya terkejut, karena pulsa reguler saya terpotong saat menyalakan internet. Terpotong Rp 2.000 lagi. Ini sudah 1 x 24 jam. Artinya laporan saya belum di proses. Saya pun kembali menelpon call center pada 1 Maret 2015, jam 7:12. Jawaban dari call center tidak memberikan angin segar. Saya malah di buatkan laporan ke dua. Dan meminta menunggu 1 x 24 jam lagi. Call Center selalu bilang pihak terkait yang memberikan respon nantinya. Pihak terkait ini siapa? Call Center hanya menjawab orang Indosat beda divisi. Terus saya harus menunggu sampai kapan setelah lebih dari 1 x 24 jam? Call center menjawab sampai dihubungi pihak terkait lagi. Dan jangan nyalakan internet bila pulsa reguler terpotong. Saya nanya lagi, masalah seperti ini biasanya kapan di tangani. Jawabannya selalu nanti pihak terkait yang menghubungi.

Saya kecewa. Saya sudah menggunakan IM3 hampir 10 tahun. Betapa tidak jelasnya pelayanan call center Indosat dan tentang internet ini. Call center yang gratis sudah tidak terdaftar lagi nomornya. Sebaiknya tidak usah di cantumkan kalo memang Costumer harus menelpon ke yang call center berbayar. Saya sudah habis 800 rupiah untuk 2x telepon call center yang tidak mempunyai jawaban. Terkesan lempar tanggung jawab.
Note: saya juga mengemail tulisan ini ke customer_service@indosat.com.

Mungkin saya cuma 1 customer dari jutaan pelanggan IM3. Tapi saya rasa banyak yang mempunyai masalah serupa. Saya harap laporan saya bisa segera diselesaikan.




Pada Minggu, 1 Maret 2015 pukul 11:39 saya dapat sms dari Indosat. Isinya "Permintaan/keluhan Anda (xxx) telah selesai kami tindaklanjuti. Terima kasih." Langsung saya cek, pulsa sudah dikembalikan normal sedia kala. Saya nyalakan internet, sudah bisa dengan memotong pulsa kouta internet. Selang beberapa menit, saya cek pulsa reguler lagi, pulsa berkurang. Saya cek pulsa internet, hanya terpotong 5 MB dan tidak berkurang2 lagi saat saya mengaktifkan internet. Yang berkurang kembali lagi pulsa reguler saya. Karena sudah sore menjelang malam, saya tidak kembali menelpon call center. Besok saja. Akhirnya selama 2 hari itu saya tidak mengaktifkan internet di HP (pasti tahu deh betapa tersiksanya, hehehe).

Senin, 2 Maret 2015, pukul 09:00an, saya menelpon kembali Call Center melalui PSTN (021) 543888888. Jawabannya sama... laporan dicatat dan akan diserahkan pihak terkait. Kali ini bilangnya respon maksimal 3 x 24 jam. Oke, saya bersabar lagi. Sorenya, pukul 18:31 saya dapat sms dari Indosat. Isinya sama kaya di atas. Hanya kode laporannya yang berbeda. Saya pun kembali cek pulsa lagi. Kali ini lebih parah, pulsa tidak kembali dan mengaktifkan internet tetap memotong pulsa reguler saya. Karena sudah sore menjelang malam, saya tidak kembali menelpon call center. Besok saja. Akhirnya selama 3 hari itu saya sangat tidak mengaktifkan internet di HP (pasti tahu deh betapa tersiksanya :(( ).

Selasa, 3 Maret 2015, pukul 09:00an, saya menelpon kembali Call Center melalui PSTN. Jawaban mereka, laporan saya sudah diselesaikan. Setelah saya terangkan secara detail, ternyata maksud mereka, jawaban sms yang hari minggu kemarin. Saya jelaskan lagi kronologi dari hari Sabtu hingga hari Selasa. Mereka minta waktu... cukup lama saya menunggu. Barulah mereka menjawab lagi... yah, dengan jawaban standar: Laporan sudah dibuat dan pihak terkait yang memberikan respon nantinya. Mau gimana lagi, saya pun sabar menunggu dengan tidak mengaktifkan internet di HP.



Maaf banget yah SURVEY INDOSAT - CALL CENTER 2 (222)... saya selalu membalas sms kalian dengan memilih nomor S2 (Tidak puas)!
»»  Selengkapnya...

Friday, October 17, 2014

DIENG CULTURE FESTIVAL 2014

Halo Bro2 dan Pembaca blog gw. Kali ini gw mau berbagi cerita pengalaman gw travel ke Dieng, Jawa Tengah. Begini ceritanya:

Waktu itu, pembicaraan di buka saat gw dan temen2 kuliah gw lagi buka bersama di deket kampus. Berhubung udah mau libur semester dan kita lum pernah jalan2 bareng, akhirnya kita berdiskusi merencanakan perjalanan. Ngobrol-ngobrol panjang, salah satu temen gw nyeletuk kalo dia pengen lihat festival lampion yang ada di Dieng. Tanpa pikir panjang, forum menyetujui. Pas juga acara diadakan di akhir bulan Agustus, kampus gw juga masih libur.

Beruntung gw punya temen yang sering banget traveling. Jadi dia yang ngurus total semua keberangkatan dan kepulangan kita ke Dieng. Aktif dan bisa diandalkan. Jadi kami semua bisa fokus bekerja dan tinggal komunikasi via Jarsos. Banyak jalan menuju Dieng. Dari naik travel, bus, hingga kereta. Namun melihat jalan darat waktu lebaran kemarin yang bisa seharian duduk-cenderung terjadi cidera tulang ekor, kami pun memutuskan untuk naik kereta. Dieng Culture Festival adalah acara internasional. Tahun ini adalah yang ke-4. Grup gw terlalu santai. Kita baru pesen tiket 2 minggu sebelum perjalanan. Banyak tiket kereta yang udah ludes T__T. Alhasil duduknya pada mencar2, walaupun masih satu gerbong.

Pergi:
Kereta Bisnis Sawunggalih Malam (Pasar Senen – Purwokerto) / 19:00 – 00:22 Wib (Rp 240.000)
Pulang:
Kereta Ekonomi AC Krakatau (Purwokerto - Pasar Senen) / 17:20 – 22:40 Wib (Rp 175.000)

Dieng Culture Festival 2014 diselenggarakan pada hari Sabtu & Minggu, 30-31 Agustus 2014. Jumatnya, gw cukup kerja setengah hari aja. Kalo yang kantornya deket Stasiun Senen masih bisa kerja full.
Ada 2 cara ke Stasiun Pasar Senen naik Commuter Line dari Depok:
1. Simpel + lama : Naik Commuter Line Depok-Jatinegara
2. Ribet + Cepet : Naik Commuter Line Depok, turun di St Manggarai, transit ke CL Bekasi. Terus turun di St Jatinegara, trasit lagi naik CL Tanah Abang turun langsung di St Pasar Senen.

Gw naik dari Stasiun Universitas Indonesia. Gw pake pilihan pertama… tinggal duduk dan keliling Jakarta naik kereta. Perjalana kira2 1,5 jam. Sempet panik, karena CL ga berhenti di Senen. Gw langsung turun di stasiun berikutnya, St Gang Setiong. Setelah tanya petugas, untungnya kita cukup nyeberang aja dan naik CL dari Jatinegara. CLnya berhenti di St Pasar Senen. And our Journey Begins Here!

Setengah 1 pagi kita sampai di Stasiun Purwokerto. Kenapa turun di Purwokerto? Katanya sih karena lebih deket perjalanannya ke Dieng, daripada  lewat Jogja. Rombongan gw dijemput travel lokal. Drivernya orang asli Wonosobo. Mas-nya asik dan lagu2 di mobilnya anak muda banget. Mobil Avanza. Jumlah kita semua ada 7 orang. Lumayan empet2an :))) Perjalanan ke Dieng menghabiskan waktu 3 jam dengan mobil. Gw tidur sepanjang perjalanan (karena masih gelap juga, mau lihat apa). Perjalanan menuju Dieng berkelok-kelok tajam… yah kaya di Puncak-nya Bogor. Gw aja mpe bangun. Sampai di Dieng, suhu waktu itu di bawah 10o C! Gw belum persiapan. Gw kedinginan. Gw mengigil. Gigi gw saling beradu. Gw masuk ke mobil lagi, menyelamatkan jiwa dan raga :)

Rencana sedikit berubah. Tadinya setelah sampai, mau langsung ke penginapan. Dan driver cuman antar doang, nanti kita pulangnya naik bus ke Purwokerto. Namun, setelah temen gw nego2, akhirnya deal-lah, kita berangkat menuju Bukit Sikunir Dieng untuk melihat golden sunrise. Mobil kita tambah 2 penumpang dan menuju Bukit Sikunir. Total biaya Travel jadi Rp 1.000.000 (PP) + Rp 300.000 (PP Sikunir) Perjalanan ga sampai setengah jam dari pusat Dieng. HTM-nya cuman Rp 5.000. Setelah sampai, gw langsung pake peralatan perang (Balsem, baju 2, kemeja, jaket 2, sarung tangan, kaos kaki, sepatu, syal, sarung, masker, dan kacamata hitam-buat lihat sunrise. Jangan lupa bawa senter juga, soalnya gelap bedt).

Untuk menuju kaki bukit Sikunir dari perumahan warga, ada ojek lokal. Tapi sori, gw ga tahu tarifnya. Karena gw memilih untuk jalan kaki dari parkiran hingga puncak Sikunir. Tahap pertama, jalan batu. Tahap ke 2, tangga tanah dan batu. Tahap ke 3, tangga tanah tanpa pegangan.  Kira2, 1 jam lebih perjalanan gw sampai puncak. Tapi dipuncak udah rame bro… karena gw termasuk nyampenya telat. Dan sepanjang jalan banyak orang2 berhenti karena kecapean atau foto2 (soalnya mataharinya udah mulai naik). Yah, yang penting kalian harus pinter2 cari spot ditengah keramaian untuk mengabadikan moment di sana :) Di atas juga ada tukang jualan dan WC umum. Jadi wolez2 aja selama di atas.

Habis turun dari bukit, kita langsung menuju homestay. Tempatnya di perumahan warga, masuk2 gang gitu dan deket masjid. Tapi sori, gw lupa nama jalannya apa. Memang pas acara Dieng Culture Festival rumah2 warga banyak yang disewakan. Karena perumahan warga dekat dengan tempat festival, tinggal jalan kaki aja. Di homestay gw bergabung dengan traveler lain. Totalnya jadi 12 orang. Kamar tidur ada 3, tempat sholat 1, kamar mandi 1 + water heater, dapur, kamar tamu, dan ruang tengah yang luas. Pemilik rumah ikut tidur di kamar belakang. Sebenernya tarifnya seikhlasnya (yang punya rumah baik banget bro). Namun karena kami ga enak, yah cari tahu dulu harga homestay rumah penduduk sekitar situ. Akhirnya kami bayar Rp 650.000 (semalam). Sekedar informasi aja, penginapan sekitar dieng semalam sekitar Rp 200.000. Tapi kalo ada acara kaya DCF ini bisa naik 2x lipet!

Karena kita rombongan, agar memudahkan mobilisasi, kita nyewa mobil bak milik warga beserta sopirnya. Itu juga nyari2 dulu, ke sana-kemari. Untunya dalam rombongan gw ada yang punya banyak kenalan warga Dieng. Jadi ga butuh waktu lama untuk dapat mobilnya. Tarifnya Rp 400.000 dan langsung dibawa muter-muter ke daerah wisata yang ada di Dieng (boleh request juga):
1. Sumur Jalatunda Dieng
Sebuah jurang lebar dan ada air di dalamnya. Orang sana bilangnya sumur. Kalo kita lempar batu sampai ke ujung tebing dan batunya nyemplung ke air, maka doa kita akan terkabul (katanya). Batu bisa dibeli di Jurkunnya seharga Rp 500 per 1 batu. Katanya juga, kalo buat kamu2 yang punya indera ke-6, bisa lihat istana + naga di sumur ini.



 2.  Kawah Sikidang dan Kawah Cadradimuka
Tepat wisata yang jenisnya sama. Yang paling besar yang pertama. Pemandangan alam yang didominasi warna hijau pegunungan dan hamparan tanah kapur.  Kawah aktif ini mengeluarkan bau yang tak sedap (kalo menurut gw kaya bau telor rebus), ga boleh lama-lama menghirup bau ini.


3. Telaga Warna Dieng
Nah… kalo mau lihat telaga yang warna permukannya muncul beragam warna bisa di sini. Bisa lihat dari atas dan bawah. Kalo mau dapat angle shoot terbaik landscape pemandangan ini, bisa foto di puncaknya.Tapi  harus naik tangga-tangga lagi untuk ke atas dan berfoto di puncak.



Malamnya, kita berangkat menuju Festival Lampion di dekat Candi Arjuna (pusat kegiatan DCF). Udara tambah dingin sob. Siapkan baju hangat sebanyak-banyaknya. Buat yang beli tiket baik festival, VIP, atau VVIP pasti dapat lampionnya (rakit sendiri loh). Oh iya, kalo mau nulis wish list-nya langsung aja di kertas lampionnya. Jalanan rame dan macet total. Jadi sebaiknya jalan kaki yah. Ada acara pelepasan lampion, pesta kembang api, dan musik (jazz di atas awan). Jangan lupa, pas pulang makan mie ongklok yah. Tersedia di hampir semua tempat makan di Dieng kog. Have fun!

Penulis:





»»  Selengkapnya...